Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra

Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra
Logo Perpustakaan

Perpustakaan

Surganya para pecinta buku, tempat menambah wawasan, membuka jendela dunia, tempat berbagi pengalaman, dan tempat having fun.

Dengan blog ini, kami mencoba berbagi pengetahuan dan pengalaman-pengalaman menarik yang kami alami di perpustakaan.

So, read it and find it out!! :D

Jumat, 13 November 2020

Kalau ada kesempatan, lanjutkanlah... (perjalanan kuliah di Thailand)

 Muhammad Bagus Arif - Chulalongkorn University, Thailand

Perjalanan Menuju Thailand

Perjalanan untuk kuliah di luar negeri seperti yang saya alami saat ini tidaklah instan. Ini dimulai step by step dari masuk pondok sampai sekarang ini. Mengapa pondok penting dalam perjalanan saya? Karena dari pondok saya mendapat beasiswa untuk lanjut kuliah S1 dan dari kuliah S1 ini saya bisa lanjut S2 di luar negeri.

Pada waktu pembekalan santri kelas 6, salah satu pembekalan diberikan oleh Alm. Ust. Sunardi Sahuri r.a. dan salah satu pesan beliau yang menjadi motivasi saya adalah “Jangan sampai berhenti hanya menjadi alumni Ibnul Qoyyim, lanjutkan ke yang lebih tinggi”. Saya memaknai kalimat ini sebagai lanjut ke jenjang yang lebih tinggi yakni dunia perkuliahan. Tentu dalam melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi diperlukan juga biaya yang tidak murah. Bapak saya pernah menyampaikan kalau hanya membiayai sekolah sampai sekolah menengah atas aja alias setelah lulus pondok kalau mau lanjut sekolah ya menggunakan uang sendiri. Dari kedua pernyataan orang yang berpengaruh dalam hidup saya tersebut saya kemudian mengambil keputusan bahwa saya akan lanjut kuliah tanpa meminta uang sepersen-pun dari orang tua saya.

Dari sana, saya kemudian mencari-cari informasi beasiswa untuk kuliah, baik itu informasi dalam negeri maupun luar negeri. Saking inginnya saya untuk kuliah, pernah suatu malam saya mimpi pergi ke kampus dan duduk di bangku perkuliahan. Sebagai seorang santri, saya berbeda dengan santri yang lain. Saya ingin melanjutkan kuliah dalam bidang eksak bukan bidang agama. Menurut saya, ada teman saya yang ingin lanjut dalam bidang agama itu sudah cukup bagi pondok untuk melestarikan dakwah. Saya ingin mencoba memahami dakwah dari segi lain, yakni dari segi ilmu pengetahuan. Alhamdulillah dalam mencari informasi beasiswa ini saya dibantu oleh seorang ustadz yang men-support keinginan diri saya ini.

Dalam tahap awal mecari beasiswa ini, rata-rata dalam formulir pendaftaran beasiswa terdapat kolom prestasi yang mana bisa menjadi poin tambahan bagi pendaftar dan acuan bagi penyedia beasiswa tentang kelayakan pendaftar untuk mendapatkan beasiswa. Prestasi ini bisa bentuk apa saja baik prestasi akademik maupun non-akademik. Prestasi akademis bisa berupa prestasi di dalam kelas dan kemampuan dalam satu bidang pelajaran. Prestasi non-akademis ini merupakan jalur bagi mereka-mereka yang kurang dalam bidang akademik termasuk saya. Prestasi non-akademis ini bisa berupa juara dalam bidang olahraga, seni, karya tulis dan lain sebagainya. Oleh karenanya, jangan malu untuk ikut lomba-lomba selama sekolah.

Salah satu kemampuan yang Alhamdulillah saya miliki adalah Bahasa inggris, meskipun belum cukup fasih karena saya mempelajari Bahasa inggris ini hanya dari sekolah dan otodidak. Dengan bermodal kemampuan yang secukupnya ini saya pernah mengikuti lomba debat Bahasa Inggris. Kalah itu adalah hal-hal biasa yang saya alami dalam sebuah perlombaan, tapi pengalaman itu adalah yang lebih berharga dari sebuah kemenangan. Alhamdulillah, pada lomba debat Bahasa Inggris tingkat SMA se-kabupaten Bantul, tim kami menjadi juara 2. Ini salah satu prestasi terbesar saya selama menjadi santri di pondok.

Kembali ke pembahasan dalam mencari informasi beasiswa, sebenarnya di pondok ada informasi beasiswa dari KEMENAG, dan bidik misi dari DIKTI (waktu itu), tetapi saya mempunyai cita-cita untuk bisa kuliah di luar negeri sehingga fokus saya adalah mencari informasi tentang beasiswa ini. Dengan memakai laptop pinjaman dari ustadz saya, saya mencari informasi dari internet. Namun pada saat itu, saya tidak menemukan beasiswa yang saya cari. Skenario Allah ternyata lebih hebat, saya tidak langsung dapat beasiswa luar negeri tetapi saya diberi beasiswa dalam negeri dulu yang mana dari sini bisa menjadi jalan untuk mendapat beasiswa di luar negeri.

Waktu itu saya sudah mendaftar beasiswa bidikmisi di UGM. Suatu waktu saya berpapasan dengan seorang ustadz, beliau hanya bilang “eh di UII ada beasiswa juga kayaknya”. Hanya itu kalimat ketika berpapasan dengan beliau. Dengan penuh penasaran saya kemudian membuka computer dan segera searching tentang beasiswa di UII. Alhasil, saya mendapat tentang informasi ini dari web resmi FTI UII, namun deadlinenya hanya seminggu kemudian, sangat mepet sekali. Alhamdulillah dengan bantuan petugas TU pondok, persyaratan bisa dilengkapi dengan segera. Dari sini bisa diambil, meski kesempatan itu mepet, selama masih ada waktu maka bisa dicoba.

Alhasil, ketika hari pengumuman tiba Alhamdulillah saya diterima baik di UGM atau juga UII. Saya itu adalah saat yang membingungkan karena harus memilih diantara dua kampus yang menurut saya adalah kampus terbaik. Siapa yang tidak ingin bisa kuliah di UGM? Namun disisi lain, UII mempunyai jurusan yang sesuai dengan keinginan saya. Oh ya di UGM saya diterima di jurusan Dokter Tumbuhan (Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, hehehe) sementara di UII saya diterima di jurusan Teknik Kimia, jurusan yang menjadi keinginan saya ketika di bangku MA.

Setelah berdiskusi dengan diri sendiri dan orang tua, bapak saya bilang “Pilihlah yang sesuai dengan yang kamu inginkan, karena yang akan menjalani nanti dirimu sendiri. Jangan sampai menyesal karena salah pilih.” Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan UGM dan memilih UII. Dan orang tua saya mendukung sepenuhnya keputusan saya ini. Ini merupakan langkah awal bagi saya karena dengan keputusan ini, saat ini saya bisa kuliah di Luar Negeri meskipun bukan lulusan PTN.

Exchange Program UII – PPC Chulalongkorn University

Setelah beberapa semester menjadi mahasiswa biasa di UII. Mahasiswa kupu-kupu kalau orang bilang, kuliah-pulang-kuliah-pulang. Pada akhir semester 7, dimuat sebuah pengumuman bahwa akan ada program exchange Batch 3 yang dimulai pada semester genap, yang berarti semester 8 bagi saya. Mengingat program beasiswa saya hanya mencakup 8 semester, mengikuti program ini merupakan gambling bagi saya, karena kalau saya tidak lulus 8 semester saya harus membayar sendiri biaya SPP wajib di semester berikutnya. Bismillah, dengan nama Allah, saya mencoba untuk mengikuti program ini, karena ini merupakan cita-cita saya untuk bisa merasakan atmosfir dari luar Indonesia.

Saya pun mencoba melengkapi persyaratan untuk mendaftar di program ini yang secara umum berupa IPK, wawancara dan skor tes Bahasa Inggris. Alhamdulillah untuk tes Bahasa Inggris, nilai saya sudah mencukupi dan IPK saya pun juga tidak jelek-jelek amat, sesuai standar persyaratan untuk beasiswa tetap mengalir pada semester berikutnya. Untuk fase wawancara, ini mempunyai trik tersendiri. Alhamdulillah juga saya pernah bergabung dengan organisasi Tim Promosi Fakultas yang mempunyai program untuk mengenalkan Kampus dan Fakultas ke dunia luar, khususnya anak-anak SMA-MA. Dari organisasi ini, saya mempunyai kesempatan untuk melatih kemampuan berbicara saya yang sebenernya sudah dilatih melalui program Muhadhoroh oleh bagian Bahasa di pondok dulu, dan kemampuan untuk branding.

Alhamdulillah pada hari pengumuman, nama saya tercantum dalam list mahasiswa yang lolos untuk mengikuti program exchange 1 semester di Thailand. Keinginan saya yang kedua, merasakan kuliah di LN, akan terwujud. Dari sini hal yang dapat diambil adalah, dalam sebuah keputusan akan ada resiko yang menunggu, tinggal bagaimana diri kita menyikapi dan mengatasi resiko yang muncul tersebut. Dalam kasus saya ini adalah, resiko beasiswa habis sebelum masa study habis, dan lulus tidak 8 semester. Namun karena keinginan saya untuk mengikuti program ini sangat kuat, terutama juga ingin jalan-jalan sebelum mengerjakan skripsi, hehe. Dengan sebuah perencanaan pribadi dan pertolongan Allah, resiko tersebut bisa teratasi.

Selama program exchange 1 semester di Thailad, saya banyak mengenal budaya baru, suasana baru dan lingkungan baru yang tidak saya dapat kalau hanya tanggal di rumah. Diantaranya adalah kesulitan dalam berkomunikasi karena Bahasa yang berbeda, rasa makanan yang berbeda dengan lidah, dan tingkah laku masyarakat yan berbeda juga. Disini juga saya mencoba untuk menjalin hubungan dengan staff atau petugas TU yang mengurusi kami selama program exchange ini, karena nanti beliau yang akan menawari saya untuk kuliah S2 di PPC. Dari sini, silahkan memanfaatkan kesempatan yang ada, buat kenalan, tidak harus dengan progresif tetapi step-by-step, perlahan-lahan. Karena tentu saja untuk mengenal sesorang pendekatannya tidak boleh agresif. Karena mungkin juga diri kita yang bukan termasuk orang yang mudah bergaul.

Tawaran S2 di Thailand.

Setelah lulus dari UII, alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Samarinda. Selama bekerja, saya tetap mempunyai keinginan untuk dapat kuliah di LN. Maka, saya tetap melatih Bahasa Inggris saya karena itu adalah salah satu pintu untuk mencapai keinginan tersebut. Bermacam cara yang saya pakai untuk melatih kemampuan Bahasa Inggris saya adalah dengan mendownload applikasi games tentang TOEFL/TOEIC, mencoba IELTS dari website dan mengikuti try out IELTS atau TOEFL di lembaga bimbingan Bahasa Inggris disekitar Samarinda. Hal itu saya lakukan ketika sedang tidak bekerja atau hari libur. Saya pun memberanikan diri untuk mencoba tes IELTS yang cukup mahal dengan persiapan otodidak tanpa mengikuti bimbingan sukses IELTS. Kuncinya adalah dengan terus berlatih dari media yang ada baik internet atau smartphone. Alhamdulillah hasil yang saya dapat cukup bagus namun belum cukup untuk memenuhi persyaratan kuliah di Eropa. Namun saya tidak putus asa, saya pun mencari informasi beasiswa LN yang sesuai dengan skor IELTS saya. Ada beberapa negara yang standar persyaratan skor Bahasa Inggris sesuai dengan skor saya. Jadi dari sini, untuk mencari beasiswa selain berusaha memenuhi skor persyaratan agar masuk, apabila skor kita tidak cukup, maka kita balik dengan mencari beasiswa yang persyaratannya sesuai dengan nilai kita.

Pada suatu siang yang cerah, burung-burung berkicau, angin berhembus semilir, ada chat pada aplikasi ‘LINE’ di HP saya. Chat ini ternyata berasal dari staff TU di Thailand tempat saya exchange dulu. Singkat kata beliau kemudian menawarkan apakah saya masih berminat untuk lanjut S2 disana. Beliau pun kemudian memberikan saya informasi mengenai beasiswa tersebut, baik deadline, persyaratan dan tata caranya.

Kemudian saya lengkapi semua persyaratan yang diminta. Kebetulan juga saya sudah punya skor IELTS jadi tinggal melengkapi syarat yang lain. Juga diperlukan rekomendasi dari dosen di kampus. Alhamdulillahnya saya mengenal dosen2 yang cukup mempunyai jabatan di kampus, dan beliau juga welcome terhadap permintaan saya. Alhasil semua persyaratan tercukupi dan berkas saya pun diterima.

Jadi berkas yang diperlukan antara lain:

-          Nilai IPK standar diatas 3.3

-          Skor test Bahasa Inggris (TOEFL ITP / IELTS)

-          Surat rekomendasi dari Dosen atau atasan

-          Surat keterangan sehat dari RS

-          Mengisi Form

-          Rencana penelitian (optional)

Sebagai penutup kisah saya, jika anda memiliki sebuah keinginan atau cita-cita yang baik, maka buatlah itu sebagai motivasi diri dan pengingat untuk mencoba. Carilah banyak informasi mengenai keinginan anda tersebut dan cobalah untuk menggapainya. Jangan merasa minder dengan kemampuan diri, terkadang orang yang mendapatkan kesempatan itu bukan karena pintar dengan nilai yang sempurna. Tetapi kesempatan itu didapat karena selalu mencoba. Dan jangan lupa untuk berdoa kepada Allah Ta’ala tentang keinginan tersebut. Terima kasih.

Link Beasiswa di Chula : https://www.grad.chula.ac.th/en/scholarship.php?type=1

Link Beasiswa di PPC Chula : https://www.ppc.chula.ac.th/index.php/applying-for-ppc/